Marissa Haque, School of Film, Athens, Ohio, Amerika Serikat

Marissa Haque, School of Film, Athens, Ohio, Amerika Serikat
Marissa Haque, School of Film, Athens, Ohio, Amerika Serikat

Logo Bob Cat untuk Ohio University Soccer Club

Logo Bob Cat untuk Ohio University Soccer Club
Logo Bob Cat untuk Ohio University Soccer Club, Marissa Haque Fawzi
Tampilkan postingan dengan label airin rachmi diany. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label airin rachmi diany. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2011

Yuk gabung dengan BIL Lovers (the Brother in Law) dengan Ikang Fawzi, Ekki Soekarno, dan Gilang Ramadhan: Marissa Haque Fawzi



"BIL (Brother in Law) Lovers: dalam Marissa Haque Fawzi"
Yuk gabung dengan BIL Lovers (the Brother in Law) dengan Ikang Fawzi, Ekki Soekarno, dan Gilang Ramadhan.

Kindly please enter this address mentioned, as follow: http://www.youtube.com/watch?v​=_sALdI_Lwwc, Regards, Marissa Haque Fawzi

Yuk gabung dengan BIL Lovers (the Brother in Law) dengan Ikang Fawzi, Ekki Soekarno, dan Gilang Ramadhan: Marissa Haque Fawzi

Rabu, 27 Juli 2011

Marissa Haque: Siphiwe Ndlovu Salah Seorang Sahabatku saat Kuliah di Ohio University School of Film, Athens, Ohio, USA

Marissa Haque: Siphiwe Ndlovu Salah Seorang Sahabatku saat Kuliah di Ohio University School of Film, Athens, Ohio, USA

Siphiwe Ndlovu My Best Friend from Mugabe's Country Once Upon a Time

la.noire.de at gmail dot com

Areas of Interest:


 I am interested in things that are "disappeared" from everyday speech, from "text", from public memory, from the   archive, from the material world,  from visibility. Of particular interest to me is the way in which things that are "disappeared" are  made to re-appear. Focusing on the colonial past of Rhodesia and the post-colonial present of  Zimbabwe I look at things that are  "appeared" and interrogate what these ruptures mean for the ways in which colonial   and post-colonial "states" imagine themselves. I pay close attention to the actual mechanics of disappearance and  appearance and analyze why certain things refuse to remain "disappeared". My areas of interest are: Post-Colonial  Studies, African Social History, Race and Gender Studies, Subaltern Studies, Film Studies, Literary Studies, and Cultural and Social Anthropology.

Sumber: http://www.stanford.edu/dept/MTL/cgi-bin/drupal/person/siphiwe-ndlovu


Friends are Forever: Elis Anis & Marissa Haque dari Athens-Ohio ke Yogya-Jateng

Persahabatan Selamanya... dari Yogyakarta di Jawa Tengah sampai ke Athens-Ohio, ...

Elis memang agak berbeda dengan beberapa kawan lainnya yang juga dekat di hatiku saat di Athens dulu. anak aktivis Muhammadiyah ini sangat rendah hati, dan sangat bagus grammar Bahasa Inggrisnya. Persahabatan kami rupanya berlanjut hingga hari ini di thaun 2011.

Friends are Forever: Elis Anis & Marissa Haque dari Athens-Ohio ke Yogya-Jateng

Kopi dan Kenangan Sampai ke Athens, Ohio: Marissa Haque Fawzi




MAJALAH NOOR
CERMIN JIWA N-02

Jakarta, Februari 2004

Kalimat itu selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Seperti menikmati aroma kopi…

Hari ini, hari Minggu. Masih suasana liburan Lebaran. Hari-hari terakhir sebelum aku akan kembali ditenggelamkan oleh segudang target kehidupan dan masa depan. Termenung aku duduk di Mushola-ku. Semilir bau tanah basah bekas hujan semalam. Bunga Kembang Sepatu merah tua seakan menyapa selamat pagi untukku yang sedang enggan mandi pagi. Kupandangi kursi tua yang kududuki, warisan ibuku. Kuraba sarung jok di bawah kimono katun yang kupakai. Rasanya baru saja kuganti seminggu sebelum lebaran, tapi entah kenapa getaran kuno dari kursi tua ini selalu melambungkanku pada suatu masa kebersamaan yang hangat. Masa-masa yang terekam kuat di bawah sadarku. Orang-orang yang dekat di hati, yang telah pergi sebanyak satu generasi. Ayah, ibu, dan keluarga besar ibu yang kukasihi.

Masih teringat di benak saat kecil, kami berempat – Shahnaz adikku yang bungsu belum lahir- mama, papa, Soraya dan aku berlibur dari pelosok kota kecil di Plaju- Baguskuning, Palembang , tempat papa bekerja sebagai karyawan pertamina, menuju Bondowoso, Jawa Timur, kampung masa kecil almarhumah ibuku.
Sepanjang perjalanan dengan pesawat Fokker F-28 yang saat itu sudah terasa mewah, kami terbang lebih dulu ke Jakarta, transit di Surabaya, lalu diteruskan melalui perjalanan darat melewati daerah pantai Pasir Putih, dan akhirnya sampai di Bondowoso. Kami menginap di rumah besar orang Belanda, istri kedua sepupu eyang putriku. Karena tak memiliki anak dari perkawinannya, beliau menganggap mama dan semua sepupunya sebagai anak sendiri. Dan perjalanan ini menjadi istimewa, karena tak lama setelah liburan kami, Oma Belanda itu meninggal dunia.

Aroma Yang Memanggil
Ada benang merah yang membuat aku flash back kepada masa lalu. Tekstur kursi tua yang aku duduki warisan almarhumah ibuku dari rumah Belanda di Bondowoso, dan aroma kopi tubruk dari cangkir yang aku genggam. Aroma ini sangat mirip dengan rekaman masa lalu bawah sadarku. Aroma yang memanggil-manggil. Ah, … wangi kopi! Bagaimana mungkin aku mengacuhkan keberadaan kopi, karena sejak diperkenalkannya di Bondowoso saat aku kecil, aku selalu ingin tahu lebih jauh. Bukan hanya karena suka akan rasa dan aromanya, tetapi kepada hikayat cerita yang melengkapinya. Membawa aku berkelana jauh ke masa ratusan tahun lalu.

Oma Belanda ini sangat paham sejarah dunia terutama soal kopi. Beliau sangat tahu nama-nama jenis kopi yang ditanam serta dibudidayakan di sekitar rumah besarnya. Ya, beliau dan suaminya yang orang jawa Timur, adalah pemilik lahan luas perkebunan kopi di Bondowoso saat itu.

Masih teringat bagaimana aku sambil terkantuk, duduk bersandar di bahunya, mendengar dengan seksama cerita-cerita yang memikat. Oma menceritakan bahwa selain di Bondowoso, biji kopi juga bisa didapatkan dari berbagai perkebunan lain di tanah air. Antara lain dari Aceh, Medan, Toraja, Timor Timur, dan dari tetangga Bondowoso, Jember . Sedangkan kopi yang terbaik dari Bondowoso adalah yang sudah dimakan Musang dan keluar bersama kotorannya. Biji-biji kopi yang merah tua disimpan dalam karung-karung goni di gudang selama 5- 7 tahun. Setelah itu dijemur di bawah sinar matahari yang terik selama 5-7 jam, kemudian ditumbuk, disangrai, lalu digiling halus.

Wah, bahagianya aku dapat membayangkan seluruh proses produksinya. Bahan informasi awal inilah yang membuat aku hari ini bersiap-siap “pulang kampung” ke Bondowoso kembali. Bernostalgia tentang keberadaan lingkungan perkebunan kopi kini karena belasan tahun lalu terkena land-reform , serta melihat kemungkinan membuat film dokumenter tentang Kopi Arabika asal Jawa Timur.


Resep Oma
Cerita Oma semakin memikat. Apalagi setelah diperkaya hikayat perdagangan yang dilakukan orang-orang Belanda di Nusantara sebelum Oma lahir, kerjasama yang berat sebelah oleh Kompeni, orang-orang bumi putra yang merebut kembali kekuasaan atas tanah ulayat milik adat, serta percintaan “terlarangnya” dengan eyang kakung yang tidak utuh kuserap karena usiaku yang masih belia. Kuingat, Soraya sudah lama terlelap di kasur lebar, di kaki Oma Belanda bersama para sepupu lainnya.

Oma juga membagi resep mengolah kopi. Baginya usaha kopi sangat kaya seni. Karenanya seluruh proses produksi diluar pembudidayaan kebun, dipegangnya sendiri. Ia berprinsip, menjual kopi harus fresh. “Cara” baginya sangat penting, dan jumlah bukanlah bidikan pertama. “Setiap kesalahan berproses adalah proses belajar itu sendiri”, kata Oma. Kalimat itu pula yang selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Karena belajar itu asyik, kita harus proaktif mendatangi beberapa pakar, tidak malu bertanya, serta menjalin silaturahim dengan siapa saja yang bermurah hati untuk membagi ilmunya. Karena menurut beliau, di dunia ini tidak banyak orang ikhlas yang tulus mau berbagi ilmu kepada sesamanya.

Dan detik ini aku lupa, belum menyiapkan sarapan pagi untuk keluargaku. Bik Inah, pembantu yang sudah puluhan tahun ikut keluarga besarku masih pulang kampung. Saat ini sebetulnya saat yang tepat untuk mengeskpresikan rasa cinta pada keluarga melalui perut. Salah satunya dengan menuangkan kopi dalam cangkir-cangkir keramik kesayangan. Yang sedikit besar untuk Ikang, suamiku. Untuk ukuran sedang untuk mertuaku, ayah Ikang. Anak-anak menyukai rasa kopi dengan campuran Mocca Cream dalam mug besar.

Aroma Kopi, Aroma Cerdas
Aku ingin menciptakan suasana cerdas di meja makan. Sambil menikmati secangkir kopi diskusi ringan mengalir tentang apa saja. Tentang headline koran hari ini, politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya. Bila diskusi tidak nyambung, ya tidak apa-apa. Yang penting adalah membina kebiasaan mengutarakan pendapat dengan cara yang santun dan terasah. Mertuaku yang mantan Diplomat karir biasanya menjadi mentor informal. Jadi, bagiku kopi bukan sekedar minuman belaka, tapi juga perekat tali emosi di dalam keluarga.

Sementara di luar rumah, aku juga sering memilih Coffee House atau Coffee Lounge sebagai tempat bertemu walau sekedar social chart demi menyambung silaturrahim. Lebih serius lagi, sering pula menjadi tempat membina pertemanan dengan relasi bisnis.

Kopi memang selalu menarik. Semenarik harumnya yang selalu membuat orang mau tak mau, walau sekedar untuk menghirup aromanya, menyita minimal satu dan dua detik untuk menikmatinya.
Aroma kopi bagiku, adalah aroma cerdas dan elegan.

Sumber: http://www.marissahaque-dulu-pdip.com/esei/kopi_dan_kenangan.htm

Indonesia's Cinematic Art Stumble and Surge: Marissa Haque Fawzi (is in Residence at Ohio University)


World Paper, New York, USA
June, 2001

By. Marissa Haque Fawzi
An Indonesia Actress, is in Residence at Ohio University

 
Indonesia as a country among many countries in the world, cannot escape of the effect of globalization. More specially, the Indonesia film industry is influenced and shaped by the cultures and trends of many other nations. This assimilation necessary and positive for progress and increased quality as long as an individual maintains his/ her own touch, so to speak. This process is guaranteed by the fact that our world grows smaller everyday and the boundaries that once existed are no more.

The father of Indonesia film, Mr. Haji Usmar Ismail, was the first Indonesia artist to graduate from the School of Film at the University of California Los Angles as early as the 1940s. Generations to follow in the 1970’s were strongly predisposed to Russian production style and technique with Indonesian graduate from Moscow University such as Syumandjaja and Amy Priono.

Many artists to follow, Producers and Directors are products of Indonesia education and training. Their work, also distinguished, is colored by local wit and wisdom. A result of their efforts has been “Edutainment” or educational entertainment for the Indonesian citizen.

The only trouble with this is seen in the extremely small ratio of these artists in relation to the population of Indonesia, which far exceeds 200 million. If the love of money is the root of all evil it has also been the demise of the film industry in Indonesia. Many Directors viewed the production of movies as a monetary printing press.
The typical Indonesian film left nothing for the viewing public; there was no moral message and no real meaning. By the end of 1980s the film industry has stagnated and come to screeching halt. The Indonesia government further stifled the industry’s creativity and quality, and the differences from one film to the next became almost impossible to discern. It was a frustrating time for the movie-going public and even exasperating for those production teams that sought to create.

In 1990s gave us Garin Nugroho. As a young man, he graduated from University of Indonesia with a degree in Law and attended Indonesia’s Institut Kesenian Jakarta (Indonesian Art Institute). Garin Nugroho was determined to create new standard, and in the mid-1990s he began work. Nugroho presented an Eastern European style of production. Many Indonesian viewers did not understand this style of production and found the storylines difficult to follow, but his works have been honored (and have placed) at almost every international film festivals in which those have appeared.

Toward the end of 1999, a group of young Indonesian film graduates that, to date, do not wish to be identified with other movie production teams, came together to produce. They represent the new techno generation, seeking something new and different from all who came before them, and it is known to Indonesians today as the movie Kuldesak. This independent production team used a grassroots style marketing strategy throughout production. The film smacks of Quentin Tarantino. The theme song from thia movie was also honored by MTV at the MTV awards 2000 in New York.

The year 2000 was phenomenon for Rivai Riza (Film Director), Mira Lesmana and Triawan Munaf (Co Producers) with their award-winning production Petualangan Sherina or the Adventures of Sherina. The British honored this production with the presentation of the British Chavening Award Scholarship to Riza. This is only logical because Riza finished his Master of Arts in screenwriting at a British Institution in 1999. Riza ia rich with British style.

What do we see in the future of the Indonesian film industry? What style do we hope will prevail? There are so many possibilities, but that which cannot be denied and is clear to even those who would close their eyes is that American films are shown on every channel of Indonesian television and fill Indonesian theatres. In this lies an undeniable answer.

We are also aware that American film is a collection of assimilations from across the world. Thus we come full circle of globalization and interdependent world in which we live. We will, each and every one of us, learn from all of those around us without exception, if we hope to progress. This is a continual process that will go on for as long as we breathe.

Source: http://www.marissahaque-dulu-pdip.com/esei/indonesia.htm

“Terbang ke Angkasa Biru”: Bunda Marissa Haque Kontemplasi di Pesawat North West

1-marissa_haque_indonesiasia2-us-indonesia-kampus-marissa-haque-saat-di-ohio-university-athens-ohio-us-dulu-2000
Dari Bintaro di Banten, Indonesia menuju Athens di Ohio, Amerika Serikat

Gagasan Terbang ke Angkasa Biru serta jendela yang berjejer banyak dari dalam pesawat saya angkat ke dalam situs ini sebagai sebuah ide dasar yang muncul saat saya sering melakukan perjalanan panjang pulang-pergi dari rumah di Bintaro, Jakarta Selatan menuju Athens, Ohio tempat saya menyelesaikan studi Master keduaku pada bidang studi Film dan Televisi di Ohio University, AS.

Saat matahari tenggelam, lalu terbit kembali, disusul oleh naiknya sang fajar yang disempurnakan oleh langit biru nan cerah membawa hati dan pikiranku melambung tinggi mengikuti arah bias sinarnya. Momen indah nan singkat ini tak pernah kubiarkan luput dari dzikir dan syukurku ke hadirat Nya. Sekaligus mengabadikannya ke dalam beberapa snap shots dengan menggunakan manual dan digital photo camera yang tak pernah tertinggal dalam tasku.

Pertimbangan lainnya mengapa tema Terbang ke Angkasa Biru ini saya pilih, karena saya selalu merasa terus berada dalam perjalanan panjang yang tak pernah henti. Persis seperti cakrawala tak bertepi di atas kepala saat berada di ketinggian ribuan mil diudara. Kehidupan manusia yang terus berterbangan menuju pusarannya di Atas Sana.

Langkah kehidupanku yang belum selesai, masih terasa panjang untuk disempurnakan. Seiring dengan penerbangan-penerbangan panjang yang kulalui tanpa rasa jemu. Penerbangan-penerbangan yang kuiringi dengan senyum ikhlas serta doa syukur yang tak pernah henti. Sambil menanti penerbangan panjang yang sesungguhnya, menuju muara Sang Kekasih Abadi.
Cinta Putih Ikang Marissa di Film Yang Kukuh dan Yang Runtuh.
Langkah kehidupanku yang belum selesai, masih terasa panjang untuk disempurnakan. Seiring dengan penerbangan-penerbangan panjang yang kulalui tanpa rasa jemu. Penerbangan-penerbangan yang kuiringi dengan senyum ikhlas serta doa syukur yang tak pernah henti. Sambil menanti penerbangan panjang yang sesungguhnya, menuju muara Sang Kekasih Abadi.

Kontemplasi oleh: Marissa Haque Fawzi
Saat berada di pesawat North West, Detroit, 2003, Menuju Columbus, Ohio, Amerika Serikat.


Sumber: http://marissahaque-lingkungan-hidup-sda.blogspot.com/

dan: http://www.marissahaque-dulu-pdip.com/terbang/

dan: http://marissahaque-ohio-inspirasi.blogspot.com/
“Terbang ke Angkasa Biru”: Bunda Marissa Haque Kontemplasi di Pesawat North West" 

Menjadi Bagian dari Sejarah Ohio University: dalam Pradana dalam Marissa Haque Fawzi

Salam kenal kepada adinda Pradana...saya dulu kuliah di sekolah film di sana...

Selamat belajar ya? Semoga segera lulus ...

Doaku,

Marissa Grace Haque Fawzi

Sumber: http://pradananusantara.wordpress.com/2010/04/06/menjadi-bagian-dari-sejarah-ohio-university/#comment-193


i
“you are now being a part of Ohio University history


Quantcast
Amerika sebagai negara terbesar di dunia awalnya tidak bukan adalah para imigran eropa yang lari dari negara mereka. Tekanan yang berasal dari para otoriter dan agama membuat mereka berjuang untuk menemukan daerah baru (New Land). Kemudian kita kenal berbagai nama pelaut Eropa seperti Magelhans, Vasco da Gama, Columbus, dan lain-lain. Masing-masing memiliki ceritanya sendiri. Namun, nama yang terakhir adalah salah satu yang paling terkenal karena ia menemukan tanah baru tersebut yang kemudian dinamakan Amerika oleh Amerigo Vespucci. Berikutnya adalah cerita tentang berlayarnya berbagai kapal ke daerah tersebut dan membentuk komunitas baru yang kemudian disebut koloni.

Kolonialisasi paling awal di Amerika terjadi di daerah timur yang berbatasan dengan Laut Atlantik. Mereka berlayar melintasi lautan dan berjuang untuk hidup. Kepergian mereka bukan tanpa perlawanan. Kerajaan-kerajaan eropa juga mengirim pasukan untuk menundukkan imigran tersebut dan membentuk pemerintahan baru. Tentu saja para imigran tidak tinggal diam. Mereka melakukan perlawanan pada berbagai peperangan. George Washington menjadi sosok yang berandil besar atas kemenangan para imigran. Sehingga tidak heran ia menjadi presiden pertama di Amerika

Setelah kemerdekaan diraih oleh warga Amerika, masalah tidak berakhir begitu saja. Tentara yang pulang dari peperangan tentu tidak punya uang untuk membiayai kehidupan keluarganya. Begitu juga dengan pemerintahan Washington.

Pertanian menjadi solusi bagi masalah ini tetapi mereka tidak punya cukup lahan. Sehingga George Washington mengirim orang ke daerah NorthWestern area yang secara natural didiami oleh Indian.

Mereka mulai membuat koloni baru dan OHIO menjadi negara pertama yang dituju.

Setelah mereka punya lahan, benih, rumah maka hiduplah warga Amerika baru ini dengan kehidupan keluarga yang baru. Mereka hidup makmur dan memiliki anak yang menyenangkan. Namun, anak mereka mulai tumbuh dan menjadi dewasa. Sehingga mereka membutuhkan satu istilah penting yang kita sebut pendidikan. Maka didirikanlah Ohio University sebagai jawaban atas masalah tersebut.
Dr. Krzic berkata, “jadi OHIO University adalah universitas tertua di hWestern Country dan salah satu yang tertua di Amerika. And you are being the part of the history”

Entri Populer